dan ngerinya perkara
yang disebutkan.
Pada ayat selanjutnya Allah
berfirman (yang artinya), ’Pada hari itu manusia adalah seperti firosy yang
bertebaran’.
Apa itu firosy?
Para ulama mengatakan bahwa firosy adalah binatang kecil yang
beterbangan.
Tatkala ada cahaya pada malam
hari binatang itu saling berdesakan dan berebutan. Binatang ini penglihatannya
begitu lemah sehingga tidak tahu arah dan tujuan. Itulah gambaran keadaan
manusia tatkala hari kiamat, tatkala bangkit dari kuburnya. Manusia sangat
bingung, berdesak-desakan tanpa tahu arah dan tujuan.
Kemudian bagaimana keadaan
gunung-gunung yang terpancang begitu kokohnya di bumi ini? Allah berfirman
mengenai hal tersebut, ”dan gunung-gunung adalah seperti ’ihni yang
dihambur-hamburkan”.
Para ulama mengatakan bahwasanya ’ihni di situ adalah bulu
domba (shuf). Ada
pula yang mengatakan bahwa ’ihni adalah kapas. Jadi ’ihni adalah suatu benda
yang sangat ringan. Yang apabila diletakkan pada tangan, bulu (kapas) akan
berhamburan tidak karuan. Itulah keadaan bumi pada hari kiamat nanti.
Gunung-gunung akan hancur luluh sebagaimana dijelaskan pada firman Allah
lainnya,
”Dan gunung-gunung dihancur
luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al
Waqi’ah [56] : 5-6)
Kemudian pada hari kiamat nanti
Allah akan membagi manusia menjadi dua golongan.
Yang pertama adalah : yang berat timbangannya, maksudnya adalah berat timbangan
kebaikan daripada kejelekannya.
Yang kedua adalah : yang ringan timbangannya, maksudnya adalah berat timbangan
kejelekannya daripada kebaikannya.
Untuk golongan pertama, Allah
menjanjikan kepada mereka ’berada dalam kehidupan yang diridhoi’. Masya Allah!!
Semoga Allah memudahkan kita termasuk golongan yang pertama ini. Itulah balasan
bagi orang yang beriman dan beramal sholih. Allah menjanjikan bagi mereka
kehidupan yang menyenangkan, tidak ada kesusahan, tidak ada lagi kesedihan dan
rasa takut. Semua akan mendapatkan ketenangan di dalamnya yaitu hidup di surga
yang kekal.
Sedangkan golongan kedua adalah
golongan yang sangat menyedihkan kehidupannya. Semoga Allah menjauhkan kita
darinya. Di mana golongan ini adalah golongan yang ringan timbangan
kebaikannya. Dan di sini ada dua kemungkinan, bisa saja orang kafir yang tidak
punya kebaikan sama sekali dan orang muslim yang lebih banyak kejelakan
daripada kebaikannya. Na’udzu billahi min dzalik.
Bagaimana kondisi golongan yang
kedua ini? Allah berfirman,
”Dan adapun orang-orang yang
ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.”
Apa yang dimaksud ummu dalam
ayat tersebut? Ada
dua tafsiran mengenai hal tersebut. Sebagian ulama menafsirkan ummu adalah
tempat kembali. Padahal ummu secara bahasa berarti ibu. Kenapa
disebut demikian? Karena tempat kembali seseorang adalah ibunya. Tatkala nangis
pasti akan menuju ke ibunya agar redah.
Ada sebagian ulama
yang mengatakan bahwa ummu adalah otak kepala.
Maksudnya adalah seseorang akan dilemparkan di neraka dengan otaknya
(kepalanya). Nas’alullahas salamah (kita memohon kepada Allah keselamatan dari
hal itu). Makna keduanya bisa kita gunakan.
Kemudian apa itu Hawiyah?
(Yaitu) api yang sangat panas. Dan ingatlah panasnya api neraka tidaklah sama
dengan api di dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”
Panas api kalian di dunia
hanya 1/70 bagian dari panas api jahannam.” (HR. Bukhari).
Masya Allah!! Berarti sangat dahsyat sekali siksaan di dalamnya.
Lihatlah di sini Allah menyebut
mizan (timbangan). Di akhirat kelak Allah, setiap orang bersama
dengan amalan dan catatan amalnya akan ditimbang pada satu
timbangan. Namun ingat walaupun di sini dikatakan yang ditimbang adalah
orangnya dan amalan serta kitabnya, bukan berarti orang yang gemuk,
timbangannnya akan menjadi berat.
Terdapat dalam hadits bahwa
datang seorang laki-laki yang besar badannya pada hari kiamat. Di sisi Allah,
tidaklah satu lengan tangannya dapat mengganti berat dosa-dosanya yang
menumpuk.
Kemudian dikatakan dalam hadits lainnya bahwa bekas nampan memberi orang minum lebih berat dari gunung Uhud. Masya Allah.
Kemudian dikatakan dalam hadits lainnya bahwa bekas nampan memberi orang minum lebih berat dari gunung Uhud. Masya Allah.
Rujukan utama : Tafsir Al
Baghowi dan Tafsir Juz ‘Amma Al ‘UtsaiminSemoga Allah membalas amalan ini.
Amin.
Disusun di Pondok Sahabat
Pogung Kidul, Pukul 11.00 siang, menjelang jumatan,
14 Dzulqo’dah 1428, 23-11-07
penulis: agitsa nur fikri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar