Senin, 25 Februari 2013

Cinta Kepada ALLAH



CINTA KEPADA ALLAH

Firman Allah Ta'ala (artinya):
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat sembahan-sembahan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."." (Bara'ah/At-Taubah: 24)
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api."
Dan disebutkan dalam riwayat lain: "Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum…" dst.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia berkata:
"Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, sekalipun banyak shalat dan shiyamnya, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun hal itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka."
Ibnu 'Abbas, dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala: "... dan putuslah hubungan antara mereka sama sekali." (Al-Baqarah: 166), ia mengatakan: "yaitu kasih sayang."






Kandungan tulisan ini:
  1. Tafsiran ayat dalam surah Al-Baqarah. Ayat ini menunjukkan barangsiapa mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah maka dia adalah musyrik.
  2. Tafsiran ayat dalam surah Bara'ah/At-Taubah. Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala-galanya.
  3. Wajib mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih daripada kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda.
  4. Pernyataan "tidak beriman", bukan berarti keluar dari Islam, (tetapi artinya ialah tidak beriman sempurna).
  5. Bahwa iman ada rasa manisnya, kadangkala dapat diperoleh seseorang dan kadangkala tidak.
  6. Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kewalian dari Allah, dan seseorang tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman kecuali dengan keempat sikap itu.
  7. Pemahaman Ibn 'Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan pada umumnya didasarkan atas kepentingan duniawi.
  8. Tafsiran ayat: "... dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali." Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akherat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.
  9. Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat.
  10. Ancaman terhadap seseorang yang kedelapan perkara tersebut di atas (orang tua, anak-anak, saudara, isteri, kaum keluarga, harta kekayaan, perniagaan dan tempat tinggal) lebih dicintainya daripada agamanya.
  11. Memuja selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah, itulah syirik akbar.












Menetapkan Al-Asma' Al-Husna Hanya Untuk Allah Dan Tidak Menyelewengkannya





Allah Ta'ala (artinya):
"Hanya milik Allah-lah Al-Asma' Al-Husna (Nama-nama Yang Maha Indah). Maka berdo'alah kepada-Nya dengan menyebut Asma'-Nya itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyelewengkan Asma'-Nya. Mereka nanti pasti akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas tafsiran firman Allah:
"Menyelewengkan Asma'-Nya", yaitu: "Berbuat syirik (dalam Asma'-Nya)."
Diriwayatkan pula dari Ibnu 'Abbas tafsirannya: "Yaitu: Mereka (orang-orang musyrik) mengambil dari asma'-Nya untuk nama-nama berhala mereka, seperti memberi nama Al-Lat berasal dari Al-Ilah dan Al-'Uzza berasal dari Al-'Aziz."
Dan diriwayatkan dari Al-A'masy (Abu Muhammad: Sulaiman bin Mahran Al-Asadi, digelari Al-A'masy. Salah seorang tabi'in ahli tafsir, hadits dan ilmu fara'idh, dan banyak meriwayatkan hadits. Dilahirkan th. 61 H (681 M) dan meninggal th. 147 H (765 M) bahwa dalam menafsirkan ayat tersebut ia mengatakan: "Mereka memasukkan ke dalam Asma'-Nya apa yang bukan darinya."
Kandungan tulisan ini:
  1. Wajib menetapkan asma' (untuk Allah, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya).
  2. Seluruh asma' Allah adalah husna (Maha Indah).
  3. Diperintahkan untuk berdo'a dengan Asma' Husna-Nya.
  4. Diperintahkan untuk meninggalkan orang-orang yang tidak tahu, yang menyelewengkan asma'-Nya.
  5. Tafsiran menyelewengkan asma'-Nya.
  6. Ancaman terhadap orang yang menyelewengkan asma' Allah dari kebenaran












Isti'adzah (Meminta Perlindungan) Kepada Selain Allah termasuk syirik



Firman Allah Ta'ala (artinya):
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu pun menambah dosa bagi mereka." (Al-Jin: 6)
Khaulah binti Hakim menuturkan:
"Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa singgah di suatu tempat, lalu berdoa "Audzubikalimatillahi-t-tammat min syarri makhalaq" (aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu." (HR Muslim)
Kandungan tulisan ini:
  1. Tafsiran ayat dalam surah Al-Jin. Dalam ayat ini Allah Ta'ala memberitahukan bahwa ada diantara manusia yang meminta perlindungan kepada jin agar merasa aman dari apa yang mereka khawatirkan akan tetapi jin itu justru menambah dosa dan rasa khawatir bagi mereka karena mereka tidak meminta perlindungan kepada Allah. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa isti'adzah (meminta perlindungan) kepada selain Allah adalah termasuk syirik dan terlarang.
  2. Isti'adzah kepada jin, atau selain Allah, termasuk syirik.
  3. Hadits tersebut di atas, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, merupakan dalil bahwa kalam Allah bukan makhluk (ciptaan) karena disyariatkan agar isti'adzah dengannya; soalnya, andaikata makhluk niscaya dilarang karena isti'adzah dengan sesuatu makhluk adalah syirik.
  4. Keutamaan doa ini, meskipun ringkas.
  5. Bahwa sesuatu yang bisa memberikan kemanfaatan duniawi, seperti menolak suatu kejahatan atau mendatangkan suatu keuntungan, tidak berarti bahwa hal itu tidak termasuk syirik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar